Pendampingan PFR Pada Proses Integrasi Pengurangan Resiko Terpadu (PRT) dalam Pengelolaan Dana Desa

Pendampingan PFR Pada Proses Integrasi Pengurangan Resiko Terpadu (PRT) dalam Pengelolaan Dana Desa

CARE Indonesia dan CIS Timor sebagai mitra implementasi melakukan pendampingan melalui program Partners for Resilience (PfR) pada dua kelurahan di Kota Kupang (Tuak Daun Merah dan Oesapa), serta masing-masing empat desa di Kabupaten Kupang (Oelbiteno, Oelatimo, Tolnaku, dan Nunsaen) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (Oekiu, Naip, Batnun, dan Linamnutu).

Melalui Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014, kini pemerintah desa bisa mengakses dana desa dari pemerintah pusat hingga satu milyar per desa. Pengadopsian RPJMD hingga tingkat desa dengan mengintegrasikan visi dan misi kepala desa masing-masing serta dengan anggaran besar dari Dana Desa ini, tentu perlu upaya-upaya yang strategis dalam penerapannya. Oleh karena itu, pemerintah desa perlu melibatkan perwakilan masyarakat dari berbagai kelompok agar dapat melakukan perencanaan pembangunan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan desa, di mana dalam hal ini juga termasuk pelaksanaan dan monitoring program.

Langkah-langkah advokasi yang dilakukan oleh CARE bersama dengan CIS Timor dalam upaya mempengaruhi RPJMDes dan RKPDes adalah:

  1. Melalui relawan yang juga berbasis dan tinggal di desa, tim PfR melakukan pendampingan pada pemerintah dan masyarakat desa, khususnya melalui Tim Perumus Desa. Pendampingan dilakukan dalam tiap rangkaian proses penyusunan, yakni sejak musyawarah di tingkat dusun dan desa, hingga dalam proses penulisan dan penyusunan dokumen RPJMDes dan RKPDes.
  2. CARE juga mendorong keterlibatan kelompok perempuan dalam beberapa tahapan proses yang strategis, yang disebut dengan MUSRENA (Musyawarah Rencana Aksi Perempuan). Keterlibatan kelompok perempuan dan kelompok masyarakat marjinal lainnya membuat proses penyusunan program pembangunan menjadi lebih inklusif. Harapannya program dan anggaran yang dialokasikan di desa bisa memberikan manfaat pada setiap masyarakat.
  3. Untuk anggota tim perumus tingkat desa, PfR juga mengadakan pelatihan lanjutan mengenai pengelolaan dana desa, serta fungsi dan peran tim perumus dana desa. Sebagai pembelajaran, CARE melihat belum keseluruhan tim perumus desa yang memahami fungsi dan peran termasuk cara pengelolaan dana desa yang partisipatif dan akuntabel. CARE menyampaikan hasil dari pelatihan agar bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah tingkat kabupaten melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). Hasil advokasi ini menimbulkan aksi konkrit di mana Dinas PMD dan jajaran Tim Ahli pendamping desa akan secara intens dan berkala melakukan coaching dan pelatihan untuk para Tim Perumus Desa.
  4. CARE bersama CIS Timor melakukan review Rencana Mitigasi Skala Kecil (Small Scale Mitigation Plan). Kegiatan ini dilakukan tidak hanya untuk mendapatkan umpan balik terhadap program PfR, namun juga untuk meningkatkan praktik masyarakat pada kegiatan tangguh bencana dan cerdas iklim, misalnya teknik pertanian berkelanjutan, bio-slurry, biogas, dan bank benih. Selain itu, telah dilakukan Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion) untuk kelompok-kelompok tani. Di mana salah satu petani juga terlibat di dalam Tim Perumus Desa. Serangkaian proses review dan FGD ini telah menjadi bekal bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan ide mereka terhadap proses penyusunan perencanaan pembangunan desa, agar mereka dapat terus didukung melakukan praktik serupa terhadap masyarakat yang lebih luas.
  5. Secara tahunan, PfR juga melakukan kegiatan review secara partisipatif untuk menilai dan mengkaji rencana dan anggaran pembangunan. Review pada tahun 2019 mengidentifikasi bahwa sekitar 29,25% anggaran pada Dana Desa di delapan desa yang didampingi oleh PfR telah secara nyata mengalokasikan program pembangunan yang mengintegrasikan pendekatan dan prinsip-prinsip PRT yang responsif gender melalui berbagai sektor, antara lain:
    a. pelatihan kelompok tani tentang praktik pertanian yang berkelanjutan,
    b. pengadaan bibit untuk komoditas tahan iklim,
    c. kesiapsiagaan bencana dengan keterlibatan kelompok-kelompok inklusif,
    d. replikasi sumur injeksi,
    e. pelatihan keahlian untuk kelompok perempuan,
    f. sistem irigasi tetes,
    g. pupuk dan pestisida yang organik dan ramah lingkungan,
    h. dan sebagainya.

Other Insights